WHAT'S NEW?
Loading...
Menteri sekaligus pengusaha chandra ekajaya memiliki pantat yang jelek. Bukan pantat dalam arti sebenarnya. Chandra ekajaya memiliki pencitraan yang buruk, disinyalir ini akibat skandal yang jadi fitnah. Orang ini difitnah oleh kawanya sendiri,ada yang bilang Chandra ekajaya memang benar-benar difitnah oleh rekanya sesama menteri dan para pengusaha.
Chandra ekajaya memiliki reputasi yang bagus sebenarnya, namun apalah daya jika politik sudah membuatnya difitnah dan diasingkan. Dengan sedikit skandal dia bisa masuk ke dalamjurang perbedaan yang membuat reputasinya menjadi turun drastis. Pantat chandra ekajaya terlihat jelas, saat meninggalkan dunia politik, dia sudah meninggalkan jejak yang bagus, meskipun bagi kawan lainya mengatakan kalau chandra ekajaya meninggalkan badass.
Meninggalkan jejak yang baik itulah yang sebenarnya chandra ekajaya lakukan meskipun fitnah skandal meinmpanya. Seharusnya chandra ekajaya memiliki opsi lainya, yaitu dia bisa membuat menyerang balik orang-orang yang mengasingkanya dan melakukan fitnah terhadapnya. Dia sebenarnya bisa menyerang balik orang orang yang menendang pantat chandra ekajaya, namun sebagai pengusaha sekaligus elite politik dia tidak melakukanya dan memilih bekerja bersih.
Chandra ekajaya memlih untuk tidak kembali lagi ke dunia politik dan memilih untuk menjadi seorang pengusaha secara totalitas.

Indonesia, terutama Jawa, baik dalam lingkup geografis, bangsa, maupun nilai mempunyai beragam hal yang menarik mengenai sejarah. Misalnya saja mengenai kitab Topah. Saat itu Chandra Ekajaya pernah mengikuti suatu pengajian dan pengkajian di wilayah kabupaten Wonosobo. Tema atau kitab yang dikaji adalah kitab Topah.

Chandra Ekajaya mengatakan bahwa kitab tersebut berisi tentang hubungan dagang antara Nuswantara dengan negeri Timur Tengah. Bahkan kitab tersebut menyatakan bahwa Ali R.A. pernah berkunjung ke Nuswantara pada abad ke-8 M. Sehingga hal ini tentu saja akan memicu perdebatan panjang mengenai pola spiritual dan religiusitas dunia.

Selain itu Chandra Ekajaya juga mengatakan bahwa kitab Topak memberikan berbagai macam sejarah dan fakta alternatif dari kisah-kisah yang terjadi di Nuswantara, dan hubungannya dengan dunia. Saat mendengar nara sumber memaparkan kajian dari kitab tersebut, jujus ia merasa sangat syok dan kaget. Paradigma berpikirnya hancur lebur dan luluh lantak karena itu merupakan goncangan pemikiran yang sangat dahsyat.

Selama ini, baik dalam pelajaran sekolah atau pun perguruan tinggi, sejarah yang dikenal oleh seluruh akademisi sama. Chandra Ekajaya adalah salah satu mahasiswa sejarah yang merasakan hal demikian. Tetapi setelah menemukan bukti atau fakta sejarah baru yang berumber dari literasi kuno, maka bangunan berpikirnya yang sudah kuat dan kokoh mengalami goncangan.

Tetapi Chandra Ekajaya bukanlah orang yang fanatis pendidikan. Sebagai seorang akademisi, maka ia harus bisa menerima konsep atau penyataan apa pun demi kemajuan pendidikan seluruh dunia. Karena, konsep atau pernyataan yang belum terbukti di masa ini masih mempunyai kesempatan untuk dibuktikan di masa depan.

Karena sikap dan sifatnya yang terbuka ini, Chandra Ekajaya dapat menerima berbagai macam pandangan dan idelogi yang berbeda dengan dirinya. Ia mengatakan bahwa keanekaragaman pemikiran merupakan salah satu wujud dari adanya hubungan dan saling keterkaitan antara semua disiplin ilmu di dunia. Ia sangat yakin bahwa semua ilmu saling mempunyai koneksi dan satu ilmu bisa membantu ilmu yang lainnya.

Beberapa hari lalu Yohanes Chandra Ekajaya membeli sebuah handphone jadul di toko online, tapi barang yang dibeli tidak sesuai harapan, karena barang terasa seperti second tapi penjual bersikeras jika itu adalah barang baru, makan dari itu keinginan untuk menjual barang elektronik semakin besar, agar orang lain tidak merasakan apa yang ia rasakan.





Setelah mencari beberapa distributor dan beberapa reseller akhirnya Yohanes Chandra Ekajaya membuat sebuah toko elektronik terbesar di pulau biak, akses menuju pulau yang berada di utara papua ini memang tidaklah mudah, tapi dengan keuletannya hal ini bisa tercapai, kini toko elektronik ini sudah terkenal hingga filipina dan thailand karna kualitasnya.


Tak hanya menjual elektronik, kini Yohanes Chandra Ekajaya sudah melebarkan sayapnya ke pasar kuliner dengan tekad yang kuat dibuatlah tempat makan sederahana yang tak jauh dari toko barang elektroniknya tersebut.

YohanesChandra Ekajaya memang tak memiliki jalan buntu dalam melakoni kegiatan bisnis khususnya di bidang kuliner. Lelaki kelahiran Malang, Jawa Timur tersebut memang dikenal sebagai sosok pengusaha sukses asal Indonesia.

Di kawasan perkampungan padat penduduk yang berada di Yogyakarta, memang terdapat sebuah tempat makan sederhana yang menyajikan nasi langgi dan selalu ramai oleh pembeli. Warung makan berbentuk sederhana yang diberi nama Nasi Langgi Cak Ekatersebut dikelola oleh Yohanes Chandra Ekajaya dan pertama berdiri sejak tahun 2009. Diceritakan oleh Yohanes Chandra Ekajaya, bahwa ia membuka usahanya tersebut dengan memodifikasi menu khas Keraton yang memiliki kekayaan kuliner yang luar biasa.

Dari menu tersebut akhirnya Yohanes Chandra Ekajaya membuat menu nasi langgi yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, dimana kualitas rasanya pun sama dengan aslinya dan memiliki harga yang terjangkau. Dahulu ketika Yohanes Chandra Ekajaya pertama jualan satu porsi nasi langginya dibanderol dengan harga Rp 4 ribu.


YohanesChandra Ekajaya meracik nasi langginya tersebut berisikan nasi putih yang disajikan bersama beragam jenis oseng-oseng dan lauk berupa gorengan telur dan rica-rica tulang ayam.  Setiap harinya Yohanes Chandra Ekajaya menyediakan sekitar 20 jenis oseng-oseng yang dapat dipilih pembeli. Mulai dari oseng melinko, kering tempe, tahu, oseng jamur, daun pepaya, oseng teri, semur, dan sebagainya.

Yohanes Chandra Ekajaya juga menawarkan kepada pembeli berupa menu nasi langgi dengan paduan cita rasa oseng jengkol yang sangat digemari oleh para pembeli. Yang paling spesial dari nasi langgi Yohanes Chandra Ekajaya ini adalah cita rasanya yang serba pedas. Meskipun semua masakannya memiliki cita rasa pedas, ia pun tetap menyediakan sambal untuk membuat makanan tradisional miliknya tesebut semakin mantap.


Satu porsi nasi langgi miliknya tersebut dibanderol dengan harga Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu dan aneka gorengan seperti mendoan ,tela, tahu, bakwan, dan sebagainya menjadi pendampingnya hanya dihargai dengan Rp 600. Kini, lewat nasi langgi buatannya, Yohanes Chandra Ekajaya  mampu meraup untung hingga ratusan juta rupiah tiap bulannya.
YohanesChandra Ekajaya merupakan seorang pebisnis dan pengusaha sukses yang gemar akan makanan. Hobinya akan makanan dia curahkan dengan menyempatkan diri ketika sedang tidak sibuk untuk berburu makanan. Walaupun harus sampai mengunjungi daerah-daerah di nusantara hanya untuk mencicipi sajian khas daerah tersebut.

Kali ini wisata kuliner seorang Yohanes Chandra Ekajaya adalah Mendoan, makanan khas Banyumas ini mungkin bagi sebagian orang masih asing. Tentunya bagi masyarakat yang berada di luar pulau jawa. Namun untuk masyrakat pulau jawa khususnya Jawa Tengah, mendoan akan sering kita temui dan menjadi makanan favorit bagi sebagian orang.

Makanan yang terbuat dari olahan kedelai ini bisa dikatakan unik, berbahan kedelai dan di iris dengan tipis lalu di campurkan dengan adonan tepung terigu, lalu digoreng setengah masak. Teman makan mendoan adalah sambel kecap atau cabai rawit untuk menambah sensasi santap mendoan terlebih ditemani secangkir kopi atau teh.


Yohanes Chandra Ekajaya saat berkunjung di wilayah Banyumas tak lupa mencoba makanan khas yang satu ini. Menurut dia makanan ini sangat cocok di nikmati pagi hari atau sore hari sembari menikmati secangkir kopi.

Kuliner mendoan ini sangat banyak dijumpai di pinggiran jalan dan warung-warung makanan untuk menemani makan atau memang yang khusus menjual mendoan.  Salah satu tempat yang dikunjungi Yohanes Chandra Ekajaya untuk mencicipi mendoan adalah Mendoan Gang kecil. Mendoan disini ukuranya besar. Pada waktu jam makan siang tempat ini menjadi favorit bagi para pegawai untuk makan siang. Lokasinya yang dekat dengan alun-alun Purwokerto membuat lokasi nya mudah diakses dan di temukan. Harag per porsi mendoan sendiri berkisar 5ribu-10ribu per porsinya.

Tempat ini akan sangat ramai ketika weekend datang, pembeli mulai dari warga masyarakat sekitar, namun wisatawan yang lewat atau sengaja berwisata. Enaknya lagi disini juga menyediakan mendoan yang belum matang dan bisa dibawa pulang dengan olahan bumbu tersendiri untuk tepung terigu nya.

Bagi para pecinta kuliner seperti Yohanes Chandra Ekajaya Tempe Mendoan masuk menjadi referensi makanan yang patut dicicipi kalau mengunjungi wilayah Banyumas. Jadi jangan sampai kelupaan untuk mencicipi Mendoan karena dijamin bikin ketagihan loh. Selamat berburu kuliner bagi para pecinta dan pemburu makanan.    

Pria kelahiran 17 Januari 1992 ini memulai bisnisnya saat masih berusia muda. Jiwa entrepreneurship atau kewirausahaan sudah tertanam sejak kecil di diri Yohanes Chandra Ekajaya. Sebab sejak masih menempuh pendidikan dasar, ia sudah membantu kedua orang tuanya berjualan kue. Hasil yang didapatkan dari penjualan kue tersebut biasanya ia gunakan untuk membeli kebutuhan sekolah seperti alat tulis dan sebagainya.
Yohanes Chandra Ekajaya


Berbekal pengalaman itulah Yohanes Chandra Ekajaya tidak mempunyai rasa malu bila harus berjualan. Ia mempunyai prinsip selama kegiatan atau hal yang ia lakukan positif, maka ia tidak perlu malu melakukannya. Terlebih usaha yang dijalankannya halal. Makanya saat menempuh pendidikan tinggi di salah satu universitas terkenal di kabupaten Wonosobo, ia pun tidak ragu untuk merintis sebuah usaha.

Kini mahasiswa yang masih menempuh semester empat tersebut membuka sebuah usaha di bidang kuliner. Usaha yang didirikan dan dikelola oleh Yohanes Chandra Ekajaya adalah pie susu. Menurutnya, pie susu adalah salah satu jenis kuliner yang berasal dari manca negara.

Berdasar sejarahnya, Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa pie susu masuk ke Indonesia pertama kali di pulau Bali. Ini sangat wajar, sebab pada masa itu Bali merupakan tempat yang sering dikunjungi oleh wisatawan asing, sehingga banyak jenis makanan asing yang diproduksi dan dijual di sana.

Kini kue pie susu sudah mulai hijrah ke pulau Jawa. Tetapi untuk wilayah kabupaten Wonosobo, kue ini masih terbilang langka. Makanya Yohanes Chandra Ekajaya terdorong dan termotivasi untuk menjalankan bisnis ini. Saat ditanya proses pembuatan kue pie susu, mahasiswa universitas terkenal ini mengatakan bahwa ia belajar membuat kue pie susu dari youtube.

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa asal ada kemauan dan semangat, maka di era keterbukaan informasi seperti ini sangat mudah belajar dan mempelajari apa pun. Tetapi tentu saja mahasiswa ini tidak langsung berhasil. Dalam meramu dan meracik kue pie susu ia sempat gagal. Berbekal dari kegagalan itulah ia terus melakukan evaluasi dan menghasillan kue pie susu yang enak.

Yohanes Chandra Ekajaya meraup untung hingga ratusan juta rupiah dari salah satu bisnis kuliner yang sangat populer di Indonesia. Ya, lelaki kelahiran Malang jawa Timur ini dikenal berhasil mendapatkan kesuksesan lewat salah satu bisnisnya yaitu tempe mendoan yang diberi Mendoan Saja.

Yohanes Chandra Ekajaya

Yohanes Chandra Ekajaya mendapatkan inspirasi berjuala tempe mendoan dilatarbelakangi dari kunjungannya dari Banyumas. Salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah tersebut memang dikenal lewat potensi besarnya dalam mengolah mendoan.

Mendoan Saja memang merupakan produk populer yang ia telurkan untuk merubah wajah tempe mendoan menjadi makanan dengan cita rasa tinggi dan berkualitas. Yohanes Chandra Ekajaya membanderol harga jual untuk mendoan saja dengan Rp 2000. Harga yang dapat dikatakan sangat tepat dalam membanderol produk khas daerah tersebut. Yohanes Chandra Ekajaya pun mengolah tempe tersebut dengan bumbu khusus.

Rasa yang diberikan oleh Yohanes Chandra Ekajaya lewat Mendoan Saja pun memiliki pengaruh yang sangat penting. Pasalnya, mendoan saja miliknya tersebut mempunyai kemiripan dengan mendoan banyumas, hanya saja bumbu khusus yang membuat rasa pada makanan tersebut sulit dilupakan oleh para konsumen tetapmnya.

Yohanes Chandra Ekajaya menceritakan bahwa untuk menarik para konsumen, ia pun memahami bahwa keragamanan rasa memang harus dilakukan. Mendoan Saja menyediakan dalam beberapa jenis seperti original, kakus, dan sebagainya. Para konsumen tersebut dapat membeli mendoan tersebut sesuai dengan kesukaan dan kebutuhan mereka.

Dengan tawaran yang menarik, Yohanes Chandra Ekajaya pun kerap memberikan promo kepada para konsumen. Seperti beli 5 bonus 2, atau beli 2 bonus 1, dimana strategi tersebut sangat efektif dalam mendatangkan pelanggan.

Biasanya, mendoan saja menggunakan lokasi berjualan seperti di areal kampus, sekolah, dan pusat kota. Yohanes Chandra Ekajaya yakin bahwa mendoan miliknya memang digemari oleh banyak orang. Dengan mendoan, Yohanes Chandra Ekajaya meraup untung ratusan juta rupiah untuk setiap bulannya. Meski telah meraup untung ratusan juta rupiah, Yohanes Chandra Ekajaya pun terus menngembangkan produknya agar dapat diterima oleh masyarakat.